← Kembali ke Artikel

Mengapa Ilmu Pengetahuan Menggunakan Nama Latin?

Mengenal alasan penggunaan bahasa Latin dalam penamaan ilmiah

Mengapa Ilmu Pengetahuan Menggunakan Nama Latin?

Pertanyaan Awal

Suatu hari saya bertanya-tanya, mengapa banyak tumbuhan, hewan, atau penemuan ilmiah memiliki nama Latin?

Padahal bahasa Latin sudah tidak digunakan sebagai bahasa komunikasi sehari-hari di dunia modern. Jika memang sudah tidak digunakan, mengapa para ilmuwan masih mempertahankannya hingga sekarang?

Pertanyaan sederhana ini membawa saya pada sejarah klasifikasi makhluk hidup, perkembangan ilmu pengetahuan, dan bagaimana manusia menyimpan pengetahuan agar dapat diwariskan lintas generasi.

Kebutuhan Manusia untuk Mengklasifikasikan Dunia

Sebelum munculnya nama Latin dalam ilmu pengetahuan, manusia sebenarnya sudah lama melakukan klasifikasi.

Peradaban Mesir Kuno mencatat berbagai tumbuhan untuk keperluan pengobatan. Tiongkok Kuno juga mengelompokkan tanaman berdasarkan manfaatnya sebagai obat. Tujuannya sederhana: memudahkan manusia mengenali sesuatu yang bermanfaat dan menghindari sesuatu yang berbahaya.

Hal ini masuk akal karena dunia dipenuhi jutaan objek yang memiliki kemiripan bentuk tetapi belum tentu memiliki fungsi yang sama. Dua tanaman bisa terlihat hampir identik, tetapi salah satunya dapat digunakan sebagai obat sementara yang lain justru beracun.

Karena itu manusia mulai membuat sistem pencatatan dan pengelompokan agar pengetahuan tersebut tidak hilang.

Dari Pengelompokan Sederhana Menuju Taksonomi

Berbagai bentuk klasifikasi telah dilakukan oleh banyak peradaban dan tokoh sepanjang sejarah.

Di Yunani Kuno, Aristoteles mencoba mengelompokkan hewan berdasarkan karakteristik tertentu. Setelah itu, berbagai ilmuwan dan naturalis Eropa juga membuat sistem pengelompokan mereka masing-masing.

Masalahnya, setiap orang menggunakan metode yang berbeda. Nama yang digunakan untuk satu spesies dapat berbeda-beda tergantung wilayah, bahasa, atau penulisnya. Akibatnya komunikasi ilmiah menjadi sulit dilakukan.

Di sinilah muncul sosok Carolus Linnaeus (Carl Linnaeus), seorang ilmuwan asal Swedia yang kemudian dikenal sebagai pelopor taksonomi modern.

Siapa Carl Linnaeus?

Carl Linnaeus lahir pada 23 Mei 1707 di Råshult, Småland, Swedia.

Ia mempelajari kedokteran di Universitas Lund pada tahun 1727 sebelum pindah ke Universitas Uppsala pada tahun 1728. Karena kondisi ekonomi yang tidak selalu mudah, ia sempat mengajar botani di kebun universitas.

Untuk memperoleh gelar doktor yang diperlukan dalam praktik kedokteran, Linnaeus melanjutkan studi ke Universitas Harderwijk di Belanda dan memperoleh gelar doktornya pada tahun 1735.

Sekembalinya ke Swedia, ia berpraktik sebagai dokter dan kemudian menjadi profesor botani di Universitas Uppsala pada tahun 1741.

Kontribusi terbesarnya bukanlah menemukan tumbuhan atau hewan tertentu, melainkan menciptakan sistem klasifikasi yang lebih teratur dan mudah digunakan.

Mengapa Menggunakan Bahasa Latin?

Ketika Linnaeus hidup, bahasa Latin masih menjadi bahasa utama dalam dunia akademik Eropa.

Ilmuwan dari berbagai negara menggunakan bahasa Latin untuk menulis dan menyebarkan karya ilmiah mereka. Dalam konteks saat itu, Latin memiliki fungsi yang mirip dengan bahasa Inggris dalam dunia ilmiah modern.

Selain itu, Latin memiliki keunggulan lain: bahasanya relatif stabil.

Karena tidak lagi berkembang sebagai bahasa sehari-hari, makna kata-katanya tidak banyak berubah. Hal ini membuatnya cocok digunakan sebagai bahasa standar untuk penamaan ilmiah.

Melalui sistem yang diperkenalkan Linnaeus, setiap spesies memperoleh nama ilmiah yang unik, misalnya:

  • Homo sapiens untuk manusia.
  • Oryza sativa untuk padi.
  • Felis catus untuk kucing domestik.

Dengan cara ini, ilmuwan dari berbagai negara dapat membicarakan spesies yang sama tanpa terhambat perbedaan bahasa lokal.

Apakah Linnaeus Orang Pertama yang Mengklasifikasikan Makhluk Hidup?

Setelah mempelajari sejarahnya, saya menyadari bahwa jawabannya adalah tidak.

Jauh sebelum Linnaeus, banyak peradaban dan ilmuwan telah melakukan klasifikasi terhadap tumbuhan dan hewan.

Yang membuat Linnaeus terkenal bukan karena ia orang pertama yang memiliki ide tersebut, melainkan karena ia berhasil menyusun sistem yang lebih konsisten, terdokumentasi, dan diterima secara luas oleh komunitas ilmiah.

Dengan kata lain, ia bukan pencipta gagasan klasifikasi, tetapi pencipta standar klasifikasi yang kemudian digunakan secara global.

Kesimpulan

Bahasa Latin digunakan bukan karena orang dahulu pertama kali mengklasifikasikan makhluk hidup dengan bahasa Latin, melainkan karena ketika sistem taksonomi modern disusun oleh Linnaeus pada abad ke-18, Latin merupakan bahasa ilmiah internasional yang paling cocok untuk dijadikan standar. Sementara Linnaeus dikenal sebagai pencipta taksonomi modern bukan karena ia orang pertama yang mengelompokkan makhluk hidup, tetapi karena ia berhasil membuat sistem klasifikasi yang terstruktur, terdokumentasi, dan diterima secara luas oleh komunitas ilmiah dunia.

Pendapat Penulis

Dari pertanyaan sederhana mengenai nama Latin, saya justru menemukan bahwa inti permasalahannya bukan terletak pada bahasanya.

Bahasa Latin hanyalah alat yang digunakan untuk menciptakan standar komunikasi ilmiah.

Hal yang lebih penting adalah kebutuhan manusia untuk mengelompokkan, mencatat, dan mewariskan pengetahuan agar dapat dipahami oleh orang lain, bahkan ratusan tahun setelah pengetahuan itu ditemukan.

Pada akhirnya, sejarah ilmu pengetahuan bukan hanya tentang siapa yang menemukan sesuatu lebih dahulu, tetapi juga tentang siapa yang berhasil menjaga pengetahuan tersebut agar tidak hilang oleh waktu.

Sumber

https://www.britannica.com/biography/Carolus-Linnaeus

https://www.britannica.com/science/taxonomy

https://www.linnean.org/learning/who-was-linnaeus/career-and-legacy

https://kkyt.quora.comSalah-satu-sosok-pelopor-penggunaan-bahasa-latin-dalam-penamaan-satwa-dan-fauna-https-id-quora-com-Mengapa-bahasa-la